Kamis, 21 November 2013



WTO Mengancam Kedaulatan Negara[1]
Oleh Divisi Diskusi[2]

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO, World Trade Organization) adalah organisasi yang mengatur mengenai perdagangan di dunia.WTO didirikan  untuk menggantikan GATT, karena  GATT ini bukan merupakan organisasi hanya kesepakatan-kesepakatan negara-negara saja. Sehingga pada saat itu dengan kebutuhan akan perdagangan internasional yang sebanarnya banyak diinginkan oleh negera-negara kapitalis ini sempat membentuk ITO (international Trade Organization) namun tidak terwujud yang akhirnya berdiri lah WTO ini, yang kemudian diratifikasi oleh indonesia setahun setelah didirikannya melalui UU Nomor 7 Tahun 1994.
WTO ini berdiri atas dorongan dari negara – negara kapitalis karena dengan adanya organisasi perdagangan dunia menjadikan produk – produk mereka dapat masuk ke negara-negera yang ada di dunia dengan akses yang mudah. Hal ini yang menjadikan negera yang berkembang sulit untuk bersaing karena negara berkembang tidak mempunyai kemampuan baik secara produk maupun teknologi yang mampuni.
Dalam WTO juga memiliki prinsip – prinsip yang salah satunya adalah prinsip nondiskriminasi maksudnya tidak ada perbedaan perlakuan terhadap produk dalam negeri dengan produk luar negeri.
Banyak perkara atau konflik yang dialami WTO, banyak yang tidak setuju dengan adanya WTO dan lain sebagainya, karena dianggapnya WTO hanyalah melemahkan kedaulatan negara dan daya saing antara produk dalam negeri dengan produk luar negeri. Menurut Prof. Dr. Ade Maman Suherman, WTO tidak sekedar organisasi internasional biasa, karena ia merupakan kendaraan politik, ekonomi, dan ideologi yang dikembangkan dalam kegiatan perdagangan internasional. Dari kegiatan perdagangan dapat dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan ideologi tertentu.
Sekarang kita lihat pada produk yang dihasilkan oleh negara berkembang dengan keterbatasan teknologinya seperti Indonesia hanya berupa hasil pertanian dan pertambangan, yang dimana hasil tersebut di ekspor tapi jangan salah bahwa sebenarnya produk tersebut bahan bakunya saja masih impor.  Inilah yang menjadikan WTO sebagai ancaman bagi kedaulatan negara.
Pada media Online Tempo.co yang dipublikasikan jumat, 15 Februari 2013, pukul 20:11 WIB indonesia Didesak Keluar dari WTO,  keikusertaan dalam WTO membuat Indonesia banyak membuat perjanjian perdagangan dengan negara lain. Perjanjian ini menjadi kesempatan bagi negara lain untuk mengintervensi kedaulatan Indonesia. WTO telah menempatkan Indonesia pada posisi lemah hingga tidak berdaulat berhadapan dengan bangsa-bangsa di dunia.
Menurut Prof. Dr. Ade Maman Suherman pada diskusi yang diselenggarakan LKHS pada tanggal 15 november 2013, di Kedai Telapak, keluar dari WTO bukan merupakan solusi yang baik, karena ketika kita sudah ketergantungan maka bisa saja kita masuk kembali ke WTO, seperti hal nya PBB kita pernah keluar dari organisasi tersebut lalu masuk kembali.
Solusi lainnya tidak hanya keluar dari WTO tapi WTO itu harus di bubarkan. Namun tidak hanya bisa membubarkan karena pembubaran tersebut tidak menjamin indonesia akan bebas dari terancamnya kedaulatan negara tapi indonesia harus mampu membangun kedaulatannya.



[1] Merupakan hasil dari DIOBRAS (diskusi obrolan santai) yang diselenggarakan pada tanggal 15 november 2013 pukul 19.30 WIB di Kedai Telapak Purwokerto Utara
[2]Divisi Diskusi Lembaga Kajian Hukum dan Sosial

Kamis, 10 Oktober 2013


INI ADALAH FOTO-FOTO DIMANA TRAINING ANGGOTA DAN MALAM KEAKRABAN LKHS DILAKSANAKAN, MUNGKIN BISA MEMBUKA INGATAN KITA KEMBALI BETAPA INDAHNNYA ACARA DEMI ACAR YANG KITA JALANI PADA SAAT ITU

ini kejadian disaat teman-teman anggota menarikan joget cesar keep smile, joget itu menjadi joget popular karena diperagakan oleh teman kita yaitu hamka angkatan 2013, 

Ssuatu banget ketika kita melihat sesosok orang ini karena seososok orang ini adalah maskot dari dunia lain di salah satu chenel tv swasta, beliau adalah Kepala Divisi Diskusi yang mempunyai panggilan Naufal, dan panggilan panjangnnya Naufallllllllllllll
 maaf jangan menafsirkan bahwa orang orang ini sedeang di ospek dengan kekerasan walaupun kekerasan diperlukan ketika memukul paku, tapi fenomena ini bisa di abadikan berkat teman-teman dekdok yang mudah mudahan kreatif. saya yakin apabila gambar di perbesar akan melihat kelucuan muka-muka teman teman anggota ini.
 subhanallah sekali, kawan kita ini karena dia telah kelelahan menyiapkan makanan bagi masyarakat yang membutuhkan makan sehingga beliau menghabiskan kira-kira 20 galon ukuran 5-5cm, beliau adalah Kepala Divisi Penelitian yang sangat sermat sekali ketia beliau meneliti apapun, beliau mempunyai sebuah nama yang namanya tidak lain dan tidak bukan yaitu tjipto prajipto (cipto prayitno)
 saya tidak tahu harus bilang apa ketika saya harus menulis apa yang sedang terjadi di foto ini, mungkin ini adalah cara terbaik sofia untuk memberikan hiburan yang mudah-mudahan menghibur kawan-kawan anggota, tapi beri dia tepuk tangan yang sangat meriah, yeeeeee \m/ 
 ini adalah dimana masyarakat tidak membutuhkan janji. kejadian ini mungkin bisa membuka matahati kita sehingga kita semua bisa berbagi dengan sesama. tapi dalam foto ini kita semua bisa melihat kawan-kawan anggota. acara makan pagi ini disambut meriah oleh kawankawan cacing yang ada di dalam tubuh kawan-kawan anggota maupun pengurus :D
 penulis tidak tahu harus mengetik apa, sampai sampai huruf di keyboard menghilang semua ketika harus membuat tulisan tentang foto di atas ini, foto ini dimana kawan-kawan panitia akan mempersiapkan tracking yang hasilnya disambut gembira oleh kawan-kawan anggota heaaahhhh \m/. di sebelah kiri foto ada anisa r, achyar, fauzi, panji, imam, eby, cipto, dody, bangkit, mahyudin, rizky, dan yang paling depan dia adalah orang yang sangat sangat sangat tidak tau sangat apaan, dia meempunyai julukan abdu 
 mungkin seharusnya saya tidak mengomentari foto di atas, karena mungkin ada efek samping dari komentar atau tulisan saya, beliau ini adalah Kepala Divisi Pengkaderanang, mungkin namanya sering kita dengar tidak aneh di telinga ,dalam sebuah perjuangan ada kata yang sangat menggugah kita yaitu bangkit, ya itu dia namanya Adhi Bangkit Saputra, mungkin yang berkenan memberikan tepuk kaki yang meriah bagi Kepala Divisi Pengkaderan kita ini PorK pRok prOk prOK horeeeeee
 kalo yang ini mungkin harus ada komentar walaupun mungkin lagi nanti komentar saya dinilai E oleh beliau, tapi saya harus memberikan komentar pada foto ini, foto ini menggambarkan bahwa ketum kita sedang mengankan kedua jarinya dan siap berjoget dan bernyanyi, ini disaat sedang tracking dan berada di post BPH.
 kami hamka dan ..... dukung kami dalam pemilihan bem periode 1999/2000, ini adalah hamka dan kawannya yang sedang berjabaat tangan, bisa kawan-kawan lihat bahwa tangannya sedang berjabat tangan
 di sebelah kiri ada egie (ketua pelaksana), winny ( staf divisi kestari ), sofia (staf divisi humsdan), finny (koordinator divisi konsumsi) mereka sedang duduk dan berfose di depan kamera ber merk nikon ....., ini dimana post penelitian bersemayam
 mungkin bisa kita beri mereka apresiasi yang sangat karena terlihat jelas kelompok ini kompak, terlihat tidak ada space di antara mereka sangat rapat sekali hehe
 kalo yang ini beliau adalah foto, fotonya tan malaka, bukan training anggota dan malam keakraban, tetapi benar-benar  fotonya tan malaka
 nah kalo yang ini adalah logo sebuah lembaga yang sangat keren beudddd, kerenya pake banget bukan aja tapi bangettt, bisa kawan-kawan lihat sendiri
ini adalah sebuah tulisan yang tulisannya adalah Tan Malaka Training Anggota dan Malam Keakraban LKHS, ini adalah judul dalam makrab kami kali ini, makrab kali ini dengan judul jeng jeng jenggggggg, AYOOOO BERORGANISASI...... BENERANNNNNN!!!!!




nb: apabila ada salah kata atau tidak enak dihati bisa hubungi penanggung jawab blog abdu (087827333305)

Minggu, 06 Oktober 2013

KITA DAN BUDAYA POP : KAWAN ATAU LAWAN?


(Diambil dari : http://www.google.com)

Oleh : Luthfi Kalbuadi[1]

            Berbicara mengenai keberlanjutan hidup, manusia sangat ditentukan oleh apa yang ia butuhkan : sandang, pangan, papan. Selanjutnya bisa kita sebut dengan kebutuhan primer yang pada dasarnya adalah kebutuhan yang diutamakan, tidak bisa tidak. Dalam hal ini, ketiga komponen yang telah disebutkan merupakan bagian penting yang tidak akan pernah lepas sebagai tolok ukur standar hidup yang berkecukupan. Setelah kebutuhan primer tadi, ada kebutuhan sekunder dan tersier sebagai kebutuhan manusia yang pemenuhannya bersifat komplementer atau pelengkap (kebutuhan sekunder dan tersier biasanya, dipenuhi setelah kebutuhan primer. Dalam rangka mengefektifkan dan mengefisienkan apa yang manusia butuhkan, hendaknya ketiga kebutuhan tadi dapat dijadikan prioritas supaya apa yang diharapkan yakni kehidupan yang berkecukupan tercapai. Namun yang menarik, ada salah satu prinsip ilmu ekonomi yang berkata bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam memenuhi kebutuhannya hingga dalam titik tertentu ia akan menemui titik kejenuhan. Begitupun dengan masyarakat Indonesia yang telah dimabukkan oleh pola hidup yang konsumtif. Didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan. Sebagai contoh, orang membeli telepon genggam karena fitur yang ada pada benda tersebut lebih menggiurkan dengan mengesampingkan fungsi telepon genggam secara substansial. Tak hanya itu, kadang kadang pula saat telepon genggam sudah dimiliki, orang akan cenderung membeli telepon genggam lain dengan alasan yang tidak jelas. Urung rusak ,wis tuku maning. Begitulah kira kira ungkapan dalam bahasa Banyumasan ketika penulis mengetahui salah seorang saudara yang membeli smartphone sementara ia masih memiliki handphone keluaran terbaru yang masih gress (baca: baru). Logikanya adalah, bila handphone yang kita pakai masih dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka tentunya dapat kita pakai hingga tidak dapat dipakai lagi baru kemudian kita bisa menggantinya dengan yang baru.

Masih banyak contoh lain yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari hari. Terus berulang hingga tiada ujungnya sampai menjadi sesuatu yang dianggap lumrah karena globalisasi hingga akhirnya, membudaya. Budaya, menurut KBBI Offline, memiliki makna pikiran, akal budi-adat istiadat-sesuatu mengenai kebudayaan yang berkembang (beradab, maju), - sesuatu yang menjadi kebiasaan. Menurut Ridho Al- Hamdi , budaya ialah suatu kebiasaan berupa praktik-praktik dalam keseharian dan sudah menjadi kebiasaan[2]. Bisa dikatakan, budaya itu ialah kesemua hal yang dilakukan terus menerus sehingga lambat laun memperoleh anggapan dan diberi cap lumrah oleh masyarakat. Sedangkan terminologi pop sendiri merujuk pada kata populer atau disukai banyak orang[3] . Jadi, kesimpulan yang kita dapat dari kedua istilah diatas tadi yakni suatu hal yang dilakukan secara kontinyu sebagai hal yang bersifat menyenangkan. Budaya pop tidak secara otomatis masuk dalam negeri ini. Ada proses yang menyertainya. Terutama, dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang gandrung oleh hal hal yang berbau serba baru. Kondisi demikian sangat dipahami betul oleh pencari keuntungan komersiil yang menyediakan apa yang sedang diinginkan masyarakat. Pelaku ekonomi dengan cerdasnya memanfaatkan budaya masyarakat Indonesia yang latah. Latah disini bukan dalam arti yang sebenarnya, namun latah dalam hal perilaku konsumsi. Barangkali hal ini sesuai seperti yang telah diutarakan Drs. Sutamto yang mengklasifikasikan sifat dan keinginan konsumen menjadi tiga, yakni
·         Konsumen berdaya beli kuat
·         Konsumen berdaya beli sedang
·         Konsumen berdaya beli rendah
Masyarakat kita agaknya termasuk tipikal konsumen berdaya beli kuat. Frekuensi pembeliannya atas suatu barang cenderung tinggi dengan model yang mengarah kemewahan dan kualitas (berorientasi pada merk) plus sering membeli barang dalam jumlah besar[4] . Pas dengan karakteristik latah tadi, konsumtif.

Sebagai contoh, jika kita menilik kebelakang sedikit, pada era 80-90-an, kita terbius dengan budaya ke Amrik amrik-an. Restoran cepat saji ala negara penjajah itu mblarah mblarah (tersebar banyak-red) di seluruh Indonesia hingga banyak orang berlomba lomba untuk makan disitu. Bahkan, secara tidak langsung tindakan seperti ini dipercaya dapat menaikkan status sosial si konsumen. Memasuki era 2000-an, kita , terutama kaum remaja mulai dimasuki roh bernama boyband. Westlife, A1, Backstreet Boys, dan lainnya. Hal yang sama masih ada sampai sekarang hingga orang orang Korea dengan boyband dan girlbandnya sukses membuat generasi muda Indonesia (anak anak juga) bertekuk mata, kuping dan mulut.  Tidak hanya barang yang sifatnya komplementer, tapi juga gaya hidup yang demikian, telah merasuk dalam sendi sendi keagamaan. Agama telah menjadi (atau dijadikan) komoditi. Saat ini hingga tulisan ini dibuat, demam kerudung gaul telah menjadi virus yang merusak remaja putri kita. Merusak mungkin bukan bahasa yang halus, namun apa daya itu sesuai dengan akibat yang disebabkan  gaya berbusana yang dikatakan gaul tapi tetap syar’i tersebut. Toko toko kerudung sampai video video di internet banyak menawarkan kerudung aneka macam dan cara modifikasi kerudung. Padahal, fashion dan kerudung tidak dapat dijadikan satu kesatuan. Fashion is fashion, hijab is hijab. And hijab is not fashion[5]. Ini malah membuat fungsi kerudung bukan pada aslinya yakni menutup aurat. Yang perlu di garisbawahi adalah aurat wanita itu dari wajah dan telapak tangan. Orang yang memutuskan memakai kerudung tentunya harus berfikir secara matang karena ini bukan sesuatu yang main main.

Bukan sesuatu yang dilarang, mengidolakan, menyukai,bahkan  memuja hal hal diatas tadi. Namun, semua itu ada batasnya. Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak dapat dibenarkan. Seperti yang dikatakan seorang psikolog[6] ketika menyikapi fanatisme terhadap fenomena boyband Korea  bahwa ketika proses pengidolaan itu sudah dijadikan bagian hidup seseorang, maka dapat berimbas buruk bagi keadaan batiniah seseorang itu. Waktu ibadah, belajar dan perintah orangtua kerap diabaikan. Dengan bahasa sehari hari kita kerap menamai kondisi yang demikian dengan sebutan alay/lebay/autis. Pada akhirnya, kebiasaan kebiasaan seperti ini mesti dikurangi, karena menurut penulis ini tidak bisa dihilangkan karena sukar menebas budaya yang telah menjangkiti masyarakat kita. Namun, tidak ada kompromi, bila kita telah mempunyai kewajiban hukum dan moral seperti halnya pengurus suatu UKM atau menjadi karyawan di sebuah instansi manapun, kebiasaan kebiasaan buruk tersebut harus ditinggalkan karena berpeluang menghambat kinerja kita sehingga bila sedikit saja kita terlambat, maka dapat berdampak secara sistemik secara kelembagaan. Sebuah hal yang tidak kita inginkan tentunya. Dengan demikian, kita sudah bisa menilai dan memilih posisi kita atau sejauh manakah kita berdiri dengan budaya pop, sebagai kawan ataukah sebagai lawan?



Bahan Bacaan
Ridho ‘’Bukan’’ Rhoma. Berhala Itu Bernama Budaya Pop. Cetakan Pertama. Yogyakarta. Leutika. 2009
Drs. Sutamto. Teknik Menjual Barang. Cetakan Kedua. Jakarta. Balai Aksara.1977
Web





[1] Mahasiswa FH Unsoed Angkatan 2010 sekaligus Volunteer di LKHS, Penulis pernah menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Kajian Hukum dan Sosial Fakultas Hukum Unsoed Periode 2011-2012. Koordinator Dewan Pertimbangan Lembaga Kajian Hukum dan Sosial 2012-2013, 
[2] Ridho ‘’Bukan’’ Rhoma. Berhala Itu Bernama Budaya Pop, Cetakan Pertama. Yogyakarta. Leutika. 2009. Hal.2
[3] Ibid, Hal.2
[4] Drs. Sutamto. Teknik Menjual Barang, Cetakan Kedua. Jakarta. Balai Aksara. 1977. Hal. 26
[6] Psikolog itu bernama Rose Mini a.k.a Mbak Romi ,dalam sebuah acara bertajuk “Warna” di Trans7, (lupa bulan dan tanggal)  tahun 2012